Jam
11.00, Ical sudah tiba di kampusnya. Dia bertemu dengan Lina di depan gedung 2.
"Woy,
Lin, tumben nih udah sampe kampus?", tegur Ical sambil menguap.
"Lah,
harusnya gue yang nanya, lo tumben banget udah nongol, biasanya telat mulu?
Kalo gue sih emang rajin, makanya jam segini udah sampe kampus," Lina
menjawab, sewot.
"Yailah
lo, gitu aje sewot. Eh, Lin, lo cantik banget hari ini," goda Ical sambil
senyum-senyum dan merangkul pundak Lina, sementara tangan yang satu memegang
rokok yang baru saja dibakarnya. Lina terdiam menatap Ical, lalu mata mereka
bertatap-tatapan. Senyum Ical semakin lebar dengan memamerkan giginya, padahal
giginya ada yang ompong. Lina tidak menjawab dan juga tidak melepaskan
rangkulan Ical.
Ical
memang pede orangnya, bahkan bisa dibilang urakan. Rambut gondrong, kulit sawo
matang, dan giginya ompong di depan agak ke kanan. Tapi meskipun penampilannya
begitu, Ical orangnya baik, banyak teman, dan juga setia kawan. Nilai-nilainya
juga baik, IPK paling kecil yang pernah didapatkan adalah 3.3. Sementara Lina
adalah teman kampus Ical, yang diam-diam disukai Ical. Tapi selama ini Ical
tidak pernah mengungkapkan perasaannya, karena ada salah satu temannya yang
juga menyukai Lina.
“Cie
bisa bareng gitu kalian berdua datangnya, janjian ya?” tanya Rieke saat
berpapasan dengan mereka berdua di koridor kampus. Tanpa sepengetahuan Lina,
Rieke senyum-senyum ke arah.
“Nggak
lah, tadi kebetulan aja ketemu di depan gedung 2,” jawab Lina. Ia tidak
menyadari bahwa senyuman Rieke adalah kode untuk Ical. “Gue sih males banget
janjian sama makhluk yang kayak gini nih,” lanjut Lina sambil menunjuk jidat
Ical, lalu berjalan memasuki kelas.
“Yeee,
elu kok sewot mulu sih, abis sarapan semur biawak lu yak?” Ical jadi ngedumel.
Kemudan mata Ical melihat ke arah Rieke, sambil senyum memamerkan giginya yang
ompong. Ia menyadari kode yang tadi dibuat Rieke.
Rieke
adalah satu-satunya teman Ical yang mengetahui kalau ia sangat menyukai Lina.
Bagaimana tidak, Ical selalu cerita kepada Rieke tentang perasaannya itu.
Mereka berdua memang teman akrab, sudah dari awal masuk kuliah dulu. Terkadang,
Rieke juga merasa bosan dan gemas mendengar cerita-cerita Ical. Bagaimana
tidak, kerjaan Ical hanya curhat kepadanya tapi tanpa usaha untuk melakukan
pendekatan serius kepada Lina. Alasan Ical sangat klasik, takut. Entah apa yang
ditakutkan olehnya. Berulang kali dirinya mencoba menasehati Ical agar mencoba
melakukan PDKT sama Lina, tapi alasannya masih sama, takut. Kalau sudah
mendengar kata-kata itu dari Ical, biasanya dia menoyor kepala Ical sambil
mengejeknya.
“Ehm..ehm..asik
nih yang tadi jalan barengn pake rangkulan segala lagi, seneng dong?” goda
Rieke. Dia menganggap bahwa ini adalah kemajuan besar yang dialami Ical dalam
usahanya mendapatkan hati Lina. Karena sebelumnya memang jarang sekali Ical
terlihat jalan bareng Lina, apalagi sampai merangkul segala.
“Asik
apaan, orang daritadi jalan berduaan juga ngga ngobrol, cuma tadi tegur-teguran
di depan, itu juga dianya sewot. Gue kan jadi takut buat ngajak ngobrol,” jawab
Ical. “Tapi gue seneng banget, tadi dia nggak nolak pas gue rangkul,” lanjutnya
sambil membayangkan kejadian tadi.
“Iya,
gue tau lo kan orangnya penakut kalo sama cewek yang lo suka. Tapi, gue juga
kaget liat lo jalan berdua sambil rangkulan. Hebat juga lo, ompong, hahahaha,”
ledek Rieke.
“Yeee
rese lu,” timpal Ical. “Mungkin ini akan jadi awal yang baik buat usaha gue
PDKT sama Lina, hehehe,” tambahnya, sedikit kepedean, sesuai dengan sifatnya
yang sangat percaya diri.
“Pede
banget lu! Tetep aja, lo udah kalah start sama si Fadil. Kalo gue bilang ya, lo
itu udah ketinggalan jauh banget sama dia,” kata Rieke. Ical tersentak
mendengar pernyataan Rieke. Benar juga, dirinya sudah tertinggal jauh dalam
perebutan mendapatkan hati Lina. Saingannya adalah Fadil, kawan baiknya
sendiri. Ical baru menyadari, akhir-akhir ini ia dan Fadil sudah jarang main
bareng. Penyebabnya tidak lain adalah karena Fadil sibuk PDKT sama Lina.
Keduanya sudah sangat dekat. Kenyataan itu membuat Ical yang sebelumnya ceria,
menjadi tampak murung. Ia tidak lagi antusias menanggapi perkataan Rieke, dan
juga melanjutkan obrolan ini. Ical menghisap panjang sisa rokoknya, lalu
menghembuskan asapnya keluar.
“Gue
ke warkop dulu ya Ke, baru inget tadi gue belum sempat ngopi di rumah. Nanti
kalo ada dosen kabarin gue ya,” kata Ical sambil berlalu meninggalkan Rieke.
Perubahan raut wajah Ical membuat Rieke salah tingkah. Ia menyesal telah
menyebut nama Fadil di depan Ical, kawan baik sekaligus saingan dalam
mendapatkan Lina.
“Cal,
sorry, bukan maksud gue........,” Reike berhenti berbicara. Ical berjalan
memunggungi Reike, mengangkat tangan kanannya menandakan agar Reike tidak
melanjutkan kata-katanya. Ical tidak marah, hanya saja ia bingung terhadap
kenyataan ini. Reike paham, kalau Ical sudah begitu, pastilah ia sedang serius.
Reike akhirnya masuk ke dalam kelas, dengan perasaan bersalah kepada Ical. Di
kelas Rieke hanya diam saja, tidak sadar kalau Lina memperhatikannya. Lina
menebak ada sesuatu yang tidak beres antara perbincangan Rieke dan Ical tadi.
“Gut
mowning, everibadeh! Pagi yang indah hari ini, seindah hati gue.” Tiba –tiba
terdengar suara dari arah pintu. Fadil. “Pagi cantik,” tegurnya kepada Lina,
yang hanya membalas dengan senyuman. Fadil terus berjalan ke arah belakang, menghampiri
Rieke yang lagi murung.
“Ke,
gue mau minta bantuan lo.”
“Bantuan
apaan?”
“Kita
ngomong di luar aja yuk. Lo tunggu gue keluar, baru lo ikutan keluar, jangan
sampe Lina curiga.”
“Hah?
Emangnya kenapa?”
“udah
lo jangan banyak tanya deh, ikutin aja instruksi gue!”
Fadil
berjalan keluar, tidak lama Rieke juga ikut keluar. Lina tidak menaruh curiga
sama sekali, karena ia sedang sibuk memeriksa tugas yang semalam dikerjakannya.
“Lo
mau minta bantuan apa emangnya, Dil?” Tanya Rieke
“Gini,
gue hari ini mau nembak Lina. Semua udah gue persiapkan, tinggal kokang terus
tarik pelatuk deh,” jawab Fadil sambil cengir.
“APAAN?
LO BENERAN?” Rieke kaget mendengar rencana Fadil.
“Buset,
biasa aje mba, pengang ini kuping gue. Iya gue beneran lah, ngapain juga boong.
Makanya gue mau minta bantuan lo sama Ical. Eh iya, mana tuh si ompong? Belum
dateng?”
“Dia
di warkop katanya, mau ngopi. Lagian menurut gue Ical ngga bakal mau bantuin
deh.”
“Lah,
emang kenapa?”
“Ical
kan juga suka sama Lina.” Ups, Rieke keceplosan. Reflek, ia segera menutup
mulutnya dengat tangan.
“Hah?
Apaan?” tanya Fadil heran.
“Eh,
nggak kok, gue mau ke toilet dulu yah sebentar,” kata Rieke, ingin menghindari
Fadil, takut ditanya lebih banyak.
Sementara Fadil yang tadi mendengar
dengan jelas pernyataaan Rieke, masih terdiam untuk beberapa saat, sebelum
kembali tersadar apa yang terjadi. Tiba-tiba ia menarik tangan Rieke.
“Ayo
ikut gue, kita samperin Ical!” Paksa Fadil. Rieke yang tak kuasa menolak,
menurut saja ketika ia dibawa ke tempat Ical berada.
“Woy,
Cal, sini deh. Gue mau ngomong sebentar.” Fadil memanggil Ical.
“Ada
apaan nih, tumben lo kayaknya serus banget.”
“Cal,
apa bener lo juga suka sama Lina? Jawab jujur cal. Rieke yang bilang sendiri
sama gue.” Fadil langsung to the point.
Ical
kaget ditanya seperti itu. Ia menoleh kearah Rieke, yang hanya menunduk merasa
bersalah. Kemudian menoleh lagi, bertatap muka dengan Fadil.
“Iya,
Dil, gue suka sama Lina, gue sayang sama dia.” Ical menjawab dengan santai.
“Lo
kenapa ngga cerita sama gue?”
“Bukan
gue ngga mau cerita, tapi gue tau, lo sangat menyayangi dia. Lo selalu cerita
tentang dia di hadapan gue. Itu mengurungkan niat gue buat cerita sama lo, gue
ngga mau merusak kebahagiaan lo dan semua usaha lo buat dapetin dia.”
“Iya
tapi kenapa lo mengorbankan hati lo sendiri?”
“Dil,
kita temenan udah lama, gue ngga mau cuma karena hal kayak gini kita jadi
renggang. Gue mengalah, gue mengorbankan perasaan gue sendiri demi kebahagiaan
temen gue sendiri, bukankah itu arti kawan yang sesungguhnya?”
Fadil
hanya terdiam mendengar penjelasan Ical, begitu juga dengan Rieke yang masih
menunduk, tidak berani melihat kearah dua sahabatnya itu.
“Dil,
dan lo juga Ke, lo berdua temen gue yang paing ngerti gue. Kalian tau kan, buat
gue teman itu adalah segalanya, terlebih kalian berdua. Dil, gue ngga mau
setelah ini lo jadi kita jadi kaku, gue ingin kita seperti biasanya, susah
senang sama-sama. Jangan sampai setelah ini kita jadi diem-dieman. Kejar cinta
lo, dan jangan sekali-sekali lo lepas. Ngga usah pikirin gue, karena gue udah
ikhlas.”
Tiba-tiba
Lina menghampiri mereka bertiga. Tanpa mereka sadari, daritadi Lina
mendengarkan pembicaraan mereka. Lina yang melihat Rieke dibawa paksa oleh
Fadil, diam-diam membuntuti mereka. Lina sudah mendengar semuanya, semua yang
dikatakan Ical.
“Apa
bener Cal yang lo bilang tadi?”, tanya Lina.
Ical
yang masih terkejut dengan kedatangannya, menjawab dengan gugup.
“I,
Iya , Lin. Gue emang sayang sama lo, sayang banget. Tapi gue tau, lo udah deket
banget sama Fadil, dan mungkin yang lo inginkan cuma dia. Gue ngga mau ganggu
kalian berdua.”
Mendengar
itu, perasaan Lina berkecamuk. Di satu sisi, ia memang menyukai Fadil, tapi di
sisi lain, ia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Ical. Tapi Ical sudah
membuat keputusan. Ia lebih memilih persahabatannya dan mengorbankan
perasaannya terhadap Lina. Hal itu membuat Lina sedih. Mungkin suatu saat nanti
Lina akan menjelaskan kepada Ical tentang perasaannya, tidak sekarang dan tidak
di depan Fadil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar